berita
Dari Toples Bekas ke Panggung Besar: Perjalanan Inspiratif Lyla Menjemput Mimpi
Ketertarikan Lyla Puteri Salsabila terhadap dunia seni ternyata tumbuh dari kebiasaan sederhana saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Berawal dari bermain toples sebagai pengganti kendang, siswi SMA Negeri 2 Rembang ini kini mampu mengembangkan bakatnya hingga tampil di berbagai panggung musik, meraih prestasi dalam lomba monolog, serta aktif mengikuti kegiatan kepramukaan.
Perjalanan Lyla mengenal musik dimulai ketika dirinya duduk di kelas III SD. Saat itu, ia gemar mendengarkan lagu-lagu dangdut melalui YouTube. Ketika sedang mencari tontonan, ia menemukan video seorang perempuan yang memainkan alat musik kendang. Tayangan tersebut membuatnya sangat tertarik untuk mempelajari cara memainkan alat musik tradisional itu.
Sayangnya, saat itu Lyla belum memiliki kendang sendiri. Namun, keterbatasan tersebut tidak menyurutkan keinginannya untuk belajar. Ia justru memanfaatkan toples yang ada di rumah sebagai alat musik pengganti. Dengan memukul-mukul permukaan toples, Lyla mencoba mengikuti ketukan dan irama lagu yang didengarnya.
Melihat keseriusan dan antusiasme sang anak, kedua orang tuanya kemudian memberikan dukungan penuh dengan membelikan sebuah kendang. Sejac memiliki alat musik sendiri, Lyla semakin rajin berlatih. Ia mulai merekam permainan musiknya dengan meng-cover sejumlah lagu, kemudian mengunggah hasil rekaman tersebut ke Facebook, Instagram, dan YouTube.
Video yang diunggah ke media sosial perlahan membuka jalan bagi Lyla untuk mengenal dunia musik secara lebih luas. Permainannya mulai menarik perhatian sejumlah musisi di Kabupaten Rembang. Kesempatan tampil di hadapan penonton pun datang ketika ia masih duduk di kelas IV SD, di mana Lyla mendapat undangan untuk mengisi hiburan dalam acara ulang tahun anak-anak. Penampilan tersebut menjadi pengalaman pertamanya tampil di atas panggung.
”Sejak saat itu, tawaran job semakin berdatangan, mulai dari organ tunggal, campursari, orkes, hingga keroncong,” kenang Lyla. Berbagai kesempatan tersebut menjadi ruang belajar baginya untuk memperkaya pengalaman bermusik. Ia tidak hanya mengasah kemampuan memainkan kendang, tetapi juga belajar menyesuaikan diri dengan beragam jenis pertunjukan dan suasana panggung.
Kini, Lyla telah duduk di kelas XI SMA Negeri 2 Rembang. Kecintaannya terhadap musik tetap ia kembangkan melalui kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Bersama siswa lain yang memiliki ketertarikan serupa, ia bergabung dalam kelompok musik Orkes SMADA. Grup tersebut terbentuk melalui pendampingan pembina ekstrakurikuler, Ibu Pandan.
Lyla beberapa kali mendapat kesempatan tampil bersama kelompok musik tersebut dalam berbagai kegiatan sekolah. Baginya, aktivitas itu bukan sekadar wadah untuk menyalurkan kemampuan bermusik, melainkan juga kesempatan emas untuk membangun kebersamaan dengan teman-teman yang mempunyai kegemaran sama.
Kemampuan Lyla ternyata tidak hanya berkembang di bidang musik. Ia juga mulai menjajal seni peran dengan mengikuti Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) pada cabang monolog. Keikutsertaannya dalam perlombaan tersebut bermula dari penunjukan langsung oleh pihak sekolah.
Meski demikian, Lyla sempat merasa kurang yakin karena belum mempunyai pengalaman tampil dalam pertunjukan monolog. Ia bahkan menganggap seni peran bukan bidang yang selama ini dikuasainya. Namun, keraguan itu perlahan berhasil diatasi berkat dukungan besar dari orang-orang di sekitarnya.
Dengan arahan dan pendampingan Ibu Rahayu selaku pembina, serta dorongan kedua orang tuanya, Lyla akhirnya bersedia menerima tantangan tersebut. Ia kemudian menjalani latihan secara rutin setiap hari untuk memberikan penampilan maksimal sekaligus mengharumkan nama sekolah.
Kerja kerasnya membuahkan hasil membanggakan. Lyla berhasil meraih juara pertama FLS3N cabang monolog tingkat Kabupaten Rembang dan berhak melanjutkan kompetisi ke tingkat Provinsi Jawa Tengah. Pencapaian tersebut menjadi pengalaman penting baginya. Ia belajar bahwa mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan dapat menghadirkan peluang baru, bahkan membuka jalan menuju prestasi yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.
Selain mengembangkan kemampuan di bidang seni, Lyla juga sangat aktif dalam kegiatan kepramukaan. Ia telah menuntaskan tingkatan Pramuka Penegak Laksana, salah satu tahapan dalam golongan Pramuka Penegak. Kesempatan menambah pengalaman di bidang kepramukaan datang melalui keikutsertaannya dalam Perkemahan Wirakarya Daerah (PWD) XI Jawa Tengah.
Kegiatan yang berlangsung pada 26 September hingga 1 Oktober 2026 di Kabupaten Kendal tersebut diikuti Lyla sebagai bagian dari perwakilan Kontingen Cabang Rembang. Pengalaman mengikuti kegiatan ini memberikan banyak pelajaran berharga di luar aktivitas sekolah. ”Melalui kegiatan pramuka, Lyla belajar tentang kedisiplinan, kerja sama, tanggung jawab, serta kepedulian terhadap masyarakat,” ujarnya.
Bagi Lyla, musik, seni peran, dan kepramukaan merupakan tiga bidang yang memberikan pengalaman berbeda, tetapi sama-sama berperan penting dalam membentuk karakter dirinya. Musik mengajarkannya untuk tekun berlatih dan berani tampil di depan banyak orang. Monolog memberinya pengalaman menghadapi tantangan baru, sedangkan kepramukaan membiasakannya untuk lebih disiplin, mandiri, dan bertanggung jawab.
Ia juga menyadari bahwa berbagai pencapaian yang diraih tidak terlepas dari dukungan banyak pihak. Karena itu, Lyla menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada kedua orang tuanya yang selalu memberikan kepercayaan dan semangat. Apresiasi tinggi juga ia berikan kepada Ibu Rahayu dan para pembina yang telah mendampingi proses pengembangan bakatnya, SMA Negeri 2 Rembang yang menyediakan ruang bagi siswa untuk berkreasi, serta teman-teman yang selalu setia memberikan dukungan.
Ke depan, Lyla berharap dapat terus meningkatkan kemampuan, memperoleh pengalaman baru, dan meraih prestasi yang lebih baik. Ia ingin setiap pencapaiannya dapat membawa kebanggaan bagi keluarga, sekolah, serta Kabupaten Rembang. Menurutnya, perjalanan yang dijalani bukan hanya tentang mengumpulkan piala atau mendapatkan penghargaan semata. Lebih dari itu, ada nilai keberanian untuk mencoba, kesungguhan dalam menjalani proses, dan keinginan agar kemampuan yang dimiliki bisa memberikan manfaat nyata bagi orang lain.
Dari toples sederhana yang dahulu digunakan untuk belajar memainkan kendang, Lyla kini telah melangkah ke berbagai panggung dan pengalaman baru. Perjalanan tersebut menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti berkembang. Selama ada kemauan, ketekunan, dan dukungan lingkungan, langkah kecil pun dapat menjadi awal dari sebuah pencapaian besar.
Perjalanan Lyla mengenal musik dimulai ketika dirinya duduk di kelas III SD. Saat itu, ia gemar mendengarkan lagu-lagu dangdut melalui YouTube. Ketika sedang mencari tontonan, ia menemukan video seorang perempuan yang memainkan alat musik kendang. Tayangan tersebut membuatnya sangat tertarik untuk mempelajari cara memainkan alat musik tradisional itu.
Sayangnya, saat itu Lyla belum memiliki kendang sendiri. Namun, keterbatasan tersebut tidak menyurutkan keinginannya untuk belajar. Ia justru memanfaatkan toples yang ada di rumah sebagai alat musik pengganti. Dengan memukul-mukul permukaan toples, Lyla mencoba mengikuti ketukan dan irama lagu yang didengarnya.
Melihat keseriusan dan antusiasme sang anak, kedua orang tuanya kemudian memberikan dukungan penuh dengan membelikan sebuah kendang. Sejac memiliki alat musik sendiri, Lyla semakin rajin berlatih. Ia mulai merekam permainan musiknya dengan meng-cover sejumlah lagu, kemudian mengunggah hasil rekaman tersebut ke Facebook, Instagram, dan YouTube.
Video yang diunggah ke media sosial perlahan membuka jalan bagi Lyla untuk mengenal dunia musik secara lebih luas. Permainannya mulai menarik perhatian sejumlah musisi di Kabupaten Rembang. Kesempatan tampil di hadapan penonton pun datang ketika ia masih duduk di kelas IV SD, di mana Lyla mendapat undangan untuk mengisi hiburan dalam acara ulang tahun anak-anak. Penampilan tersebut menjadi pengalaman pertamanya tampil di atas panggung.
”Sejak saat itu, tawaran job semakin berdatangan, mulai dari organ tunggal, campursari, orkes, hingga keroncong,” kenang Lyla. Berbagai kesempatan tersebut menjadi ruang belajar baginya untuk memperkaya pengalaman bermusik. Ia tidak hanya mengasah kemampuan memainkan kendang, tetapi juga belajar menyesuaikan diri dengan beragam jenis pertunjukan dan suasana panggung.
Kini, Lyla telah duduk di kelas XI SMA Negeri 2 Rembang. Kecintaannya terhadap musik tetap ia kembangkan melalui kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Bersama siswa lain yang memiliki ketertarikan serupa, ia bergabung dalam kelompok musik Orkes SMADA. Grup tersebut terbentuk melalui pendampingan pembina ekstrakurikuler, Ibu Pandan.
Lyla beberapa kali mendapat kesempatan tampil bersama kelompok musik tersebut dalam berbagai kegiatan sekolah. Baginya, aktivitas itu bukan sekadar wadah untuk menyalurkan kemampuan bermusik, melainkan juga kesempatan emas untuk membangun kebersamaan dengan teman-teman yang mempunyai kegemaran sama.
Kemampuan Lyla ternyata tidak hanya berkembang di bidang musik. Ia juga mulai menjajal seni peran dengan mengikuti Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) pada cabang monolog. Keikutsertaannya dalam perlombaan tersebut bermula dari penunjukan langsung oleh pihak sekolah.
Meski demikian, Lyla sempat merasa kurang yakin karena belum mempunyai pengalaman tampil dalam pertunjukan monolog. Ia bahkan menganggap seni peran bukan bidang yang selama ini dikuasainya. Namun, keraguan itu perlahan berhasil diatasi berkat dukungan besar dari orang-orang di sekitarnya.
Dengan arahan dan pendampingan Ibu Rahayu selaku pembina, serta dorongan kedua orang tuanya, Lyla akhirnya bersedia menerima tantangan tersebut. Ia kemudian menjalani latihan secara rutin setiap hari untuk memberikan penampilan maksimal sekaligus mengharumkan nama sekolah.
Kerja kerasnya membuahkan hasil membanggakan. Lyla berhasil meraih juara pertama FLS3N cabang monolog tingkat Kabupaten Rembang dan berhak melanjutkan kompetisi ke tingkat Provinsi Jawa Tengah. Pencapaian tersebut menjadi pengalaman penting baginya. Ia belajar bahwa mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan dapat menghadirkan peluang baru, bahkan membuka jalan menuju prestasi yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.
Selain mengembangkan kemampuan di bidang seni, Lyla juga sangat aktif dalam kegiatan kepramukaan. Ia telah menuntaskan tingkatan Pramuka Penegak Laksana, salah satu tahapan dalam golongan Pramuka Penegak. Kesempatan menambah pengalaman di bidang kepramukaan datang melalui keikutsertaannya dalam Perkemahan Wirakarya Daerah (PWD) XI Jawa Tengah.
Kegiatan yang berlangsung pada 26 September hingga 1 Oktober 2026 di Kabupaten Kendal tersebut diikuti Lyla sebagai bagian dari perwakilan Kontingen Cabang Rembang. Pengalaman mengikuti kegiatan ini memberikan banyak pelajaran berharga di luar aktivitas sekolah. ”Melalui kegiatan pramuka, Lyla belajar tentang kedisiplinan, kerja sama, tanggung jawab, serta kepedulian terhadap masyarakat,” ujarnya.
Bagi Lyla, musik, seni peran, dan kepramukaan merupakan tiga bidang yang memberikan pengalaman berbeda, tetapi sama-sama berperan penting dalam membentuk karakter dirinya. Musik mengajarkannya untuk tekun berlatih dan berani tampil di depan banyak orang. Monolog memberinya pengalaman menghadapi tantangan baru, sedangkan kepramukaan membiasakannya untuk lebih disiplin, mandiri, dan bertanggung jawab.
Ia juga menyadari bahwa berbagai pencapaian yang diraih tidak terlepas dari dukungan banyak pihak. Karena itu, Lyla menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada kedua orang tuanya yang selalu memberikan kepercayaan dan semangat. Apresiasi tinggi juga ia berikan kepada Ibu Rahayu dan para pembina yang telah mendampingi proses pengembangan bakatnya, SMA Negeri 2 Rembang yang menyediakan ruang bagi siswa untuk berkreasi, serta teman-teman yang selalu setia memberikan dukungan.
Ke depan, Lyla berharap dapat terus meningkatkan kemampuan, memperoleh pengalaman baru, dan meraih prestasi yang lebih baik. Ia ingin setiap pencapaiannya dapat membawa kebanggaan bagi keluarga, sekolah, serta Kabupaten Rembang. Menurutnya, perjalanan yang dijalani bukan hanya tentang mengumpulkan piala atau mendapatkan penghargaan semata. Lebih dari itu, ada nilai keberanian untuk mencoba, kesungguhan dalam menjalani proses, dan keinginan agar kemampuan yang dimiliki bisa memberikan manfaat nyata bagi orang lain.
Dari toples sederhana yang dahulu digunakan untuk belajar memainkan kendang, Lyla kini telah melangkah ke berbagai panggung dan pengalaman baru. Perjalanan tersebut menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti berkembang. Selama ada kemauan, ketekunan, dan dukungan lingkungan, langkah kecil pun dapat menjadi awal dari sebuah pencapaian besar.